Jumat, 03 Februari 2017

KISAH CAELUM, SI ALAT PAHAT

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda miskin yang baik hari. Pemuda tersebut adalah seorang pematung yang handal. Ia bekerja sebagai pematung yang jujur. Meskipun tokonya sepi, ia tak pernah berhenti belajar dan bekerja keras. “Suatu hari nanti, aku akan sukses,” ia meyakini dalam hati. Pemuda itu bekerja dengan alat pahat yang sederhana, namun ia bisa menghasilkan karya yang sangat indah.

Suatu hari, toko pemuda itu kedatangan seorang gadis kecil. Ia pun menyambut anak itu dengan ramah. “Halo gadis kecil, ada yang bisa kubantu?” kata sang pemuda. Ia mengamati anak kecil yang berdiri dihadapannya itu. “Tuan, aku ingin memberikan patung yang indah untuk ulang tahun ayahku,” katanya si anak.


 

“Baiklah, aku bisa membuatkannya, patung apa yang ingin kau berikan untuk ayahmu?” pemuda itu bertanya pada sang anak. “Ayahku suka sekali dengan kuda, bisakah kau membuatkan patung seekor kuda untuknya?,” pinta anak itu. “Kuda? Ya, tentu saja aku bisa membuatnya,” pemuda itu berkata sambil tersenyum.

“Kapan hari ulang tahun ayahmu, Nak?” pemuda itu bertanya. “Ayahku berulang tahun pada hari Minggu,” jawab anak itu. “Baiklah, akan kuantarkan sebelum hari Minggu,” kata si pemuda dengan gembira. Dimana rumahmu?,” pemuda itu bertanya. “Rumahku didekat pasar, rumah nomer 2 sebelum perempatan,” jawab anak itu dengan jelas. “Oke, rumah nomer dua sebelum perempatan,” pemuda itu mengingat instruksi itu baik-baik.

Anak itu pun mengeluarkan uang dari sakunya. “Ini bayaranmu tuan, maaf aku hanya punya uang segini,” ucap anak itu sambil menunduk. Sang pemuda mengamati uang yang dimiliki sang anak. Jumlahnya sangat sedikit dan tentu saja tidak cukup untuk membayar patungnya. “Itu semua uang yang kau miliki?” tanya sang pemuda. Gadis kecil itupun mengangguk. “Kalau semua uangmu kau berikan padaku, nanti kau tidak punya uang lagi untuk pulang.” kata si pemuda. Gadis itu pun berkata, “Tidak apa apa, aku bisa pulang dengan berjalan kaki, aku tadi kesini juga dengan berjalan kaki,” jawab anak itu dengan polos.

Sang pemuda pun merasa iba. “Ya sudah, simpan saja uangmu, Nak. Akan ku antarkan patungnya nanti, kau tidak perlu membayarku. Anggap saja, ini hadiah untuk anak baik sepertimu. Kau sangat menyayangi ayahmu.” kata sang pemuda itu dengan tulus. Anak itu pun terkejut, “Apa kau serius?” tanyanya tak yakin. “Iya, aku serius. Tenang saja, ayahmu akan mendapatkan patung kuda yang indah nanti,” kata sang pemuda. “Terimakasih tuan, kau sangat baik sekali, ku do'akan semoga kau menjadi pematung yang hebat suatu saat nanti,” ujar si anak dengan bahagia. Sang pemuda pun tersenyum dan mengamini do'a si anak tersebut.

Setelah sang anak pulang, ia mengerjakan patung pesanan si anak dengan sungguh-sungguh. Ia mengerjakannya dengan sangat teliti. Seminggu kemudian, jadilah patung yang indah. Ia pun mengantarkan patung tersebut kerumah gadis kecil yang seminggu lalu datang ke tokonya. Namun, begitu ia sampai, ia kebingungan. Rumah nomor 2 sebelum perempatan adalah toko patung yang sangat bagus. “Ini tidak mungkin rumah gadis itu,” pikirnya dalam hati. Ia mengira gadis itu salah memberi alamat. Ia hendak bertanya kepada orang sekitar, lalu ia melihat gadis itu membuka pintu toko.
Tuan, kau sudah datang, kau membawakan patung kuda ayahku, kan?” tanyanya bersemangat. Pemuda itu pun mengangguk. “Ini rumahmu?,” tanya sang pemuda keheranan. “Iya, ini rumah sekaligus toko kami, ayo masuk, aku ingin memperkenalkanmu pada ayahku,” gadis itu berkata sambil tersenyum. Pemuda itupun masuk bersamanya. “Ayaaaah, ayo kesini, aku membawakan kado ulang tahun untukmu,” kata gadis itu ceria. Dan muncullah ayah gadis itu, seorang pria tua dikursi roda. Sang pemuda dan si gadis kecil itupun menunjukkan patung kuda tersebut kepadanya. “Luar biasa, indah sekali, kau benar-benar pematung yang hebat tuan,” puji ayah gadis itu.

“Terimakasih tuan, anda juga seorang pematung hebat, karya-karya anda sungguh luar biasa, toko anda ini sangat terkenal,” kata sang pemuda balas memuji. “Ya tuan, dulu aku pematung hebat, namun, aku sudah tidak bisa membuat patung lagi sekarang, seminggu yang lalu aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan tanganku terluka,” cerita si pria tua itu sambil menunjukkan kedua tangannya yang gemetar.
“Aku ingin sekali membuat patung kuda, namun belum sempat melakukannya karena kondisiku yang sekarang tidak memungkinkan lagi untuk membuat patung,” kata si pria tua dengan sedih. Sang pemuda pun mengerti mengapa sang anak memberikan patung kuda untuk ulang tahun ayahnya. Hal tersebut karena sang ayah sudah tidak akan bisa lagi membuat patung apapun, apalagi patung kuda.

Kau membuat patung yang indah tuan, aku yakin kau akan menjadi pematung hebat. Bagaimana kalau kau bekerja disini dan membantuku menjalankan toko ini?” kata sang pria tua dengan yakin. Sang pemuda pun terkejut mendengarnya. “Anda serius menginginkan saya bekerja disini?” tanya sang pemuda tak percaya. “Iya, sangat serius.” jawab si pria tua sambil tersenyum. Sang pemuda pun menerima tawaran itu.

Akhirnya, ia bekerja di toko itu. Dengan alat pahat sederhananya, ia terus menghasilkan karya-karya yang bagus. Toko itu pun semakin sukses dan sang pemuda pun menjadi pematung terkenal. Ia mengajari gadis kecil itu cara mematung juga. Ia pun mengabadikan alat pahat kesayangannya dilangit malam sebagai rasi bintang Caelum.

...................................................................................................................................................

Rasi bintang Caelum adalah rasi bintang yang terletak di langit belahan selatan. Rasi bintang Caelum merupakan rasi terkecil ke-8 dilangit. Bintang paling terang di rasi ini adalah Alpha Caeli. Rasi ini tidak memiliki hujan meteor. Rasi bintang Caelum berbatasan dengan beberapa rasi lain seperti Columba, Lepus, Eridanus, Horologium, Dorado, dan Pictor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.