Pada
jaman dahulu kala, hiduplah seorang pemuda miskin yang baik hari.
Pemuda tersebut adalah seorang pematung yang handal. Ia bekerja
sebagai pematung yang jujur. Meskipun tokonya sepi, ia tak pernah
berhenti belajar dan bekerja keras. “Suatu hari nanti, aku
akan sukses,” ia meyakini dalam hati. Pemuda itu bekerja dengan
alat pahat yang sederhana, namun ia bisa menghasilkan karya yang
sangat indah.
Suatu
hari, toko pemuda itu kedatangan seorang gadis kecil. Ia pun
menyambut anak itu dengan ramah. “Halo gadis kecil, ada yang
bisa kubantu?” kata sang pemuda. Ia mengamati anak kecil yang
berdiri dihadapannya itu. “Tuan, aku ingin memberikan patung
yang indah untuk ulang tahun ayahku,” katanya si anak.
“Baiklah, aku bisa membuatkannya, patung apa yang ingin kau berikan untuk ayahmu?” pemuda itu bertanya pada sang anak. “Ayahku suka sekali dengan kuda, bisakah kau membuatkan patung seekor kuda untuknya?,” pinta anak itu. “Kuda? Ya, tentu saja aku bisa membuatnya,” pemuda itu berkata sambil tersenyum.
“Kapan
hari ulang tahun ayahmu, Nak?” pemuda itu bertanya. “Ayahku
berulang tahun pada hari Minggu,” jawab anak itu. “Baiklah,
akan kuantarkan sebelum hari Minggu,” kata si pemuda dengan
gembira. “Dimana rumahmu?,” pemuda itu bertanya.
“Rumahku didekat pasar, rumah nomer 2 sebelum perempatan,”
jawab anak itu dengan jelas. “Oke, rumah nomer dua sebelum
perempatan,” pemuda itu mengingat instruksi itu baik-baik.
Anak
itu pun mengeluarkan uang dari sakunya. “Ini bayaranmu tuan,
maaf aku hanya punya uang segini,” ucap anak itu sambil
menunduk. Sang pemuda mengamati uang yang dimiliki sang anak.
Jumlahnya sangat sedikit dan tentu saja tidak cukup untuk membayar
patungnya. “Itu semua uang yang kau miliki?” tanya sang
pemuda. Gadis kecil itupun mengangguk. “Kalau semua uangmu kau
berikan padaku, nanti kau tidak punya uang lagi untuk pulang.”
kata si pemuda. Gadis itu pun berkata, “Tidak apa apa, aku
bisa pulang dengan berjalan kaki, aku tadi kesini juga dengan
berjalan kaki,” jawab anak itu dengan polos.
Sang
pemuda pun merasa iba. “Ya sudah, simpan saja uangmu, Nak. Akan
ku antarkan patungnya nanti, kau tidak perlu membayarku. Anggap saja,
ini hadiah untuk anak baik sepertimu. Kau sangat menyayangi ayahmu.”
kata sang pemuda itu dengan tulus. Anak itu pun terkejut, “Apa
kau serius?” tanyanya tak yakin. “Iya, aku serius. Tenang
saja, ayahmu akan mendapatkan patung kuda yang indah nanti,”
kata sang pemuda. “Terimakasih tuan, kau sangat baik sekali, ku
do'akan semoga kau menjadi pematung yang hebat suatu saat nanti,”
ujar si anak dengan bahagia. Sang pemuda pun tersenyum dan mengamini
do'a si anak tersebut.
Setelah
sang anak pulang, ia mengerjakan patung pesanan si anak dengan
sungguh-sungguh. Ia mengerjakannya dengan sangat teliti. Seminggu
kemudian, jadilah patung yang indah. Ia pun mengantarkan patung
tersebut kerumah gadis kecil yang seminggu lalu datang ke tokonya.
Namun, begitu ia sampai, ia kebingungan. Rumah nomor 2 sebelum
perempatan adalah toko patung yang sangat bagus. “Ini tidak
mungkin rumah gadis itu,” pikirnya dalam hati. Ia mengira gadis
itu salah memberi alamat. Ia hendak bertanya kepada orang sekitar,
lalu ia melihat gadis itu membuka pintu toko.
“Tuan,
kau sudah datang, kau membawakan patung kuda ayahku, kan?”
tanyanya bersemangat. Pemuda itu pun mengangguk. “Ini rumahmu?,”
tanya sang pemuda keheranan. “Iya, ini rumah sekaligus toko
kami, ayo masuk, aku ingin memperkenalkanmu pada ayahku,” gadis
itu berkata sambil tersenyum. Pemuda itupun masuk bersamanya.
“Ayaaaah, ayo kesini, aku membawakan kado ulang tahun untukmu,”
kata gadis itu ceria. Dan muncullah ayah gadis itu, seorang pria tua
dikursi roda. Sang pemuda dan si gadis kecil itupun menunjukkan
patung kuda tersebut kepadanya. “Luar biasa, indah sekali, kau
benar-benar pematung yang hebat tuan,” puji ayah gadis itu.
“Terimakasih
tuan, anda juga seorang pematung hebat, karya-karya anda sungguh luar
biasa, toko anda ini sangat terkenal,” kata sang pemuda balas
memuji. “Ya tuan, dulu aku pematung hebat, namun, aku sudah
tidak bisa membuat patung lagi sekarang, seminggu yang lalu aku
mengalami kecelakaan yang menyebabkan tanganku terluka,” cerita
si pria tua itu sambil menunjukkan kedua tangannya yang gemetar.
“Aku
ingin sekali membuat patung kuda, namun belum sempat melakukannya
karena kondisiku yang sekarang tidak memungkinkan lagi untuk membuat
patung,” kata si pria tua dengan sedih. Sang pemuda pun
mengerti mengapa sang anak memberikan patung kuda untuk ulang tahun
ayahnya. Hal tersebut karena sang ayah sudah tidak akan bisa lagi
membuat patung apapun, apalagi patung kuda.
“Kau
membuat patung yang indah tuan, aku yakin kau akan menjadi pematung
hebat. Bagaimana kalau kau bekerja disini dan membantuku menjalankan
toko ini?” kata sang pria tua dengan yakin. Sang pemuda pun
terkejut mendengarnya. “Anda serius menginginkan saya bekerja
disini?” tanya sang pemuda tak percaya. “Iya, sangat
serius.” jawab si pria tua sambil tersenyum. Sang pemuda pun
menerima tawaran itu.
Akhirnya,
ia bekerja di toko itu. Dengan alat pahat sederhananya, ia terus
menghasilkan karya-karya yang bagus. Toko itu pun semakin sukses dan
sang pemuda pun menjadi pematung terkenal. Ia mengajari gadis kecil
itu cara mematung juga. Ia pun mengabadikan alat pahat kesayangannya
dilangit malam sebagai rasi bintang Caelum.
...................................................................................................................................................
Rasi
bintang Caelum adalah rasi bintang yang terletak di langit belahan
selatan. Rasi bintang Caelum merupakan rasi terkecil ke-8 dilangit.
Bintang paling terang di rasi ini adalah Alpha Caeli. Rasi ini tidak
memiliki hujan meteor. Rasi bintang Caelum berbatasan dengan beberapa
rasi lain seperti Columba, Lepus, Eridanus, Horologium, Dorado, dan
Pictor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar